Selasa, 13 Desember 2011

KKM UNTUK MATEMATIKA SMK 2011 SMT GASAL

          Bagi peserta didik sudah bukan sesuatu yang asing lagi bahwa KKM adalah target ketuntasan minimal yang harus dipenuhi. Pada semester ini kusus untuk pelajaran matematika di SMK N Kalibaru, untuk kelas X adalah 75,71 sedangkan untuk kelas XI adalah 75,00 dan untuk kelas XII adalah 76,83 hal ini jauh diatas nilai KKM yang harus diperoleh pada tahun sebelumnya. Sebenarnya adalah sesuatu hal yang wajar jika kualitas pendidikan di Indonesia harus ditingkatkan.  Jika pada windu-windu sebelumnya, mahasiswa dari beberapa negara ASEAN masuk ke Indonesia, sedangkan belakangan ini justru peserta didik kita yang menempuh study ke luar negeri. Bahkan ironinya, adalah merupakan suatu kebanggaan jika guru-guru dalam negeri studi banding ke luar negeri. 
         Dari kenyataan ini, kita sadari kekalahan kualitas pendidikan di Indonesia, yang nota bene biaya pendidikan saat ini jauh lebih mahal. Dalam falsafah jawa " rego nggowo rupo" nampaknya tidak terjadi disini. Kita tahu bersama bahwa kucuran bantuan operasional BOS dari Pemerintah yang diberikan kepada sekolah selalu meningkat pada tiap tahunnya, nampaknya tidak juga merubah kenyataan tetap mahalnya sebuah pendidikan. Kita tunggu pada tahun ini, pemerintah juga berencana menaikkan anggaran BOS dan BOM. Dan coba kita rasakan efeknya, apakah wali dari peserta didik tidak kesulitan biaya lagi?
          Pertanyaan yang muncul, ada apa gerangan? Jawabannya dikembalikan kepada masing-masing pribadi jiwa yang berada dalam sistem pendidikan kita. Bukankah semua amanat akan dipertanggung jawabkan amanah dan tidaknya seseorang? Masih layakkah open management atau istilah blak kotang alias tidak transparan sebuah pembukuan dipertahankan? Dengan dalih apapun, misalnya " karena yang dapat bantuan sedikit sedangkan yang membutuhkan banyak maka harus " Nggendong endet" yang dapat BOS atau beasiswa membantu yang tidak dapat. Akhirnya yang terjadi adalah muspro alias mubazir. Justru yang mestinya dapat bantuan malah dapat membantu pihak lain, sedangkan yang nyata-nyata  dibantu mendapatkan sesuatu yang tidak layak diterimakan dan bahkan tidak dapat apa-apa.
           Nampaknya pemerintah memang harus berhati-hati menentukan dan mengambil kebijakan, agar Indonesia berubah menjadi baik, jujur, berkualitas dan maju.

2 komentar: